IMG 20261028 WA0051

JAKARTA | Informasi TV  – Memperingati 98 tahun ikrar bersejarah Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928 – 28 Oktober 2026), Keluarga Besar Perkumpulan Pengacara dan Penasehat Hukum Indonesia (P3HI) mengeluarkan seruan kebangsaan sekaligus otokritik tajam terhadap arah tata kelola hukum dan demokrasi di bawah pemerintahan saat ini.

​Sumpah Pemuda bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan tonggak sejarah penentu arah bangsa yang lahir dari keberanian pemuda lintas latar belakang demi melepaskan Indonesia dari belenggu ketidakadilan.

​Ketua Umum P3HI, Aspihani Ideris Assegaf, S.A.P., S.H., M.H., menegaskan bahwa momentum Sumpah Pemuda tahun 2026 ini harus dijadikan alarm kesadaran untuk menyelamatkan kedaulatan hukum dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

​”Sumpah Pemuda adalah pondasi utama kemerdekaan Indonesia. Namun sangat disayangkan, hari ini kita menyaksikan nilai-nilai luhur tersebut terus digerus oleh realitas politik kekuasaan yang kian menjauhi cita-cita reformasi,” tegas Aspihani dalam rilis resminya, Rabu (28/10/2026).

​P3HI pun menilai, kondisi penegakan hukum di Indonesia saat ini kata Aspihani Ideris, berada dalam tahap yang mengkhawatirkan. Pemerintah kerap memperlihatkan kebiasaan menggunakan hukum sebagai sarana legitimasi kepentingan politik dan ekonomi kelompok ketimbang mewujudkan keadilan sosial.

​”Kami melihat ada kecenderungan tajam di mana hukum dijadikan instrumen untuk membungkam kebebasan berpendapat, meredam sikap kritis masyarakat, serta mengamankan kekuasaan. Keadilan kini terasa ‘tajam ke bawah, tumpul ke atas’. Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang diperhalus dengan regulasi bermasalah adalah bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita Sumpah Pemuda,” tambah Aspihani.

​P3HI mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi dan ruang sipil yang makin menyempit adalah sinyal kemunduran demokrasi yang harus segera dihentikan oleh penguasa.

​Aspihani menyerukan agar generasi muda, kaum intelektual, dan para praktisi hukum muda tidak memilih untuk tinggal diam atau bersikap apatis.

​”Pemuda bukan sekadar penonton atau pemanis retorika di podium pejabat. Pemuda adalah penentu arah bangsa hari ini. Jadilah generasi yang berani berpikir kritis, menjunjung tinggi kejujuran, dan menjaga moralitas di tengah gempuran disinformasi serta godaan pragmatisme. Berbeda pendapat harus didasari argumentasi yang kuat, bukan kebencian. Sampaikan kritik secara substantif dan bermartabat, bukan caci maki. Ingat, kritis tidak berarti kasar, dan sopan bukan berarti diam serta tunduk pada kesewenang-wenangan. Mari bangun kembali bangsa ini dengan keberanian berpikir, keluhuran akhlak, dan tanggung jawab moral,” ujarnya.

​​Mengakhiri pernyataannya, P3HI menegaskan komitmennya untuk berdiri di garis depan bersama rakyat dalam mengawal penegakan hukum yang profesional, jujur, dan berkeadilan tanpa pandang bulu.

​”Mari kita jadikan nilai-nilai Sumpah Pemuda sebagai energi untuk melawan ketidakadilan, menghentikan penyalahgunaan wewenang, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-98! Bersatu dalam keberagaman, teguh dalam keadilan, maju dalam gagasan!” pungkas Aspihani.

admin

By admin