JAKARTA | Informasi TV – Lembaga Survei Indonesia (LSI), Indikator Politik Indonesia (IPI), Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) adakan acara Diskusi Publik dan Rilis Survei Nasional, dengan tema “Legitimasi Publik atas Perang Amerika-Israel dan Iran”.
Acara berlangsung pada hari Kamis (02/04/2026), pukul 10.00 WIB, bertempat di Hotel Sari Pacific, Ruang Nusantara Ballroom, Lantai M. Jl. M.H. Thamrin No. 6, Jakarta Pusat.
Acara mengundang narasumber antara lain:
Prof. Burhanuddin Muhtadi, Ph.D. (Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia)
• Djayadi Hanan, Ph.D. (Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI)
• Deni Irvani, M.Si. (Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC)
• Pdt. Dr. (HC) Jacklevyn Frits Manuputty, M. Th. (Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI)
• Dra. Jaleswari Pramodhawardani, M.Hum (Kepala LAB 46)
• Luthfi Assyaukanie, Ph.D. (Dosen Senior Universitas Paramadina)
• Ulta Levenia Nababan, M.A. (Tenaga Ahli Utama Kantor Staff Presiden)
• Zezen Zaenal Muttaqin, S.J.D. (Dosen Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII),
Dengan moderator Prof. Saiful Mujani, Ph.D. (Dosen Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN). Sebagai pembuka, Saiful Mujani mengemukakan dasar dari permasalahan tentang perang AS-Israel dengan Iran.
“Dalam demokrasi pemerintah biasa mengkonsultasikan dengan rakyat ketika ingin membuat keputusan penting lewat berbagai mekanisme seperti town hall, menyerap berita, dan hasil survei opini publik,” pungkasnya.
Dalam paparannya, Djayadi Hanan, Ph.D. (Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengatakan, “Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan PM Israel Benyamin Netanyahu telah mengambil keputusan sangat penting tentang serangan terhadap Iran dan pemimpinnya. Amerika-Israel menyerang Iran dan membunuh sejumlah pemimpinnya, menghancurkan Iran dan membunuh banyak warga sipil,” jelasnya.
Perang Ini menurut Indonesia apakah Legitimate atau tidak. Apakah Amerika Serikat dan Israel punya “legitimasi demokrasi” di publik Indonesia.
Kebijakan yang diambil pemerintah RI :
1. Bergabung dengan BOP (Board of Peace).
2. Mengirim 8 ribu tentara ke Gaza.
Faktor rakyat memberikan legitimasi
1. Perspektif Realisme
*Hipotesis 1 (Kepentingan Nasional dan Hubungan Anarkis). Hubungan Antar negara selalu dalam ketegangan dan saling mengancam meskipun tidak selalu manifes dalam konflik dan perang.
Di level warga negara, hipotesis ini kemungkinan warga negara mendukung.
2. Perspektif Benturan Peradaban: *Hipotesis 2 (dukungan dan pembenaran terhadap serangan Amerika -Israel terkait dengan keyakinan Israel adalah wujud dari tanah air yang dijanjikan Tuhan pada bangsa Yahudi.
Perspektif Liberalisme (Neo Liberalisme).
*Hipotesis 3 : orang punya preferensi terhadap demokrasi kemungkinan berhubungan dengan penolakan terhadap serangan Amerika-Israel terhadap Iran. *Hipotesis 4 : Orang mendukung tentara aktif menjadi pemimpin nasional kemungkinan mendukung serangan Amerika Israel terhadap Iran.
Deni Irvani, M.Si. (Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dalam paparan nya menjelaskan pengukuran legitimasi publik perang Amerika – Israel terhadap Iran diukur dalam 3 item:
1. Komponen dukungn perang:
a. Persetujuan atas serangan Amerika-Iran terhadap Iran.
b. Keinginan untuk meyakinkan orang lain untuk berada di pihak yang benar.
c. Keinginan untuk menjadi relawan kesehatan.
2. Komponen alasan membenarkan;
1. Sikap setuju
3. Kebijakan Pemerintah
a. Sikap setuju atau tidak mengenai status Indonesia di BOP.
Populasi Survei ini semua warga negara indonesia memiliki sekitar 80 persen dari populasi Indonesia. Opini tentang perang tersebut sangat erat kaitannya dengan berita dari berbagai sumber. Untuk kepentingan representasi opini publik nasional analisis dilakukan pembobotan data.
Prof. Burhanuddin Muhtadi, Ph.D. (Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia) membagi beberpa komponen, antara lain :
A. Komponen Dukungan Perang
1. Sikap.
2. Siap untuk berperan atau tidak.
Realisme hubungan antara Negara di dunia pada dasarnya saling mengancam antara satu sama lainnya. Adanya benturan peradaban antara keyakinan yaitu Islam vs Judeo-Kristiani.
Benturan Peradaban : Israel adalah Tanah Air yang dijanjikan Tuhan bagi bangsa Yahudi?
Serangan terhadap Iran tidak legitimate:
1.;Liberalisme : Komitmen terhadap Demokrasi.
2.;Liberalisme : Tentara Aktif Memerintah Negara kita.
Beberapa point yang didapat:
1. Publik Indonesia pada umumnya tidak realis.
2. Tidak berpandangan Israel sebagai tanahnyanh dijanjikan.
3. Preferensi pada demokrasi daripada rezim militer.
Kesimpulan dari Diskusi Publik :
• Masyarakat Indonesia pada umumnya tidak mendukung perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
• Warga pada umumnya, 83.1%, tidak setuju/sangat tidak setuju dengan serangan Amerika-Israel terhadap Iran. Sementara yang setuju/sangat setuju 4.9%, antara setuju dan tidak setuju 7.4%, dan yang tidak punya sikap 4.5% .
• Mayoritas warga, 68.8%, menyatakan tidak ingin/sangat tidak ingin meyakinkan orang lain bahwa Amerika dan Israel berada di pihak yang benar dalam perang melawan Iran. Sementara yang ingin/sangat ingin 13.7%, antara ingin dan tidak ingin 10.1%, dan yang tidak bersikap 7.4%.
• Mayoritas warga, 74.4%, menyatakan tidak ingin/sangat tidak ingin menjadi relawan
untuk membantu tim kesehatan untuk tentara-tentara Amerika-Israel yang sedang
berperang melawan Iran. Sementara yang ingin/sangat ingin 13%, antara ingin dan tidak ingin 10%, dan yang tidak bersikap 2.6%.
• Secara keseluruhan, serangan Amerika-Israel terhadap Iran tidak mendapat legitimasi dari publik Indonesia.
• Aspirasi publik ini penting didengar oleh Pemerintah Indonesia, khususnya dalam memberikan respon luar negeri atas perang yang sedang terjadi antara Amerika-Israel dan Iran.
(Ril/RK).
